Senin, 01 September 2025

kekera di Silvania

 Ada sebuah kota. Namanya Silvania. Kota ini berpenduduk 3000 orang. Di pusat ada gerje katedral yang megah dan taman air mancur.

Di siang hari kota ini sungguh indah dan sejuk dengan pepohonan yang rindang, tapi entah kenapa di malam hari Kota ini sungguh gelap mencekam.

“Jadi kotamu memiliki katedral megah dan taman air mancur, ya? Aku jadi ingin melihatnya.” balas Alfred melalui telepon.

Fanny yang di belakangnya tersenyum. dia sudah mempersiapkan bekal untuk mereka berdua.

“Benar. Katedralnya indah sekali. dan air mancurnya bersih sekali. airnya bening dan segar. ada ikan koi yang berenang-renang di sana.” balas Nancy.

“Oke. Aku akan segera ke sana. Aku akan berkunjung ke kotamu.”

“Kutunggu.” jawab Nancy.

kedua remaja itu berangkat bersama menuju kota yang dimaksud oleh Nancy. Mereka berdua pergi ke stasiun. Mereka naik kereta ke

Ada dua remaja laki-laki yang berkunjung di kota ini. Namanya Alfred dan Fanni. Mereka punya teman perempuan bernama Nancy. Nancy penduduk asli kota ini. Usia mereka 14 tahun. Mereka melihat-lihat pemandangan kota. Mereka diperbolehkan jalan-jalan kota ini asalkan harus pulang sebelum matahari terbenam. Kalau sudah malam tidak boleh keluar. Mereka juga dilarang mengunjungi hutan favella yang berada di selatan.

Awalnya mereka menurut tapi mereka penasaran. Mereka bertanya pada Nancy tapi Nancy tak mau menjawab. Dia hanya mengatakan ini sudah tradisi. Mereka harus menurut. Ini demi kebaikan kita semua. Tradisi ini sudah berjalan selama ratusan tahun di kota ini. Alfred dan Fanni juga merasa ada yang aneh. Setiap matahari akan terbenam para penduduk memasang piring perak di depan rumah. Ada yang di pintu, di jendela, digantung di pohon di kebun di depan rumah, di pagar.

Mereka berdua pun makin penasaran. Mereka bertekad ingin mencari tahu rahasia ini. Mereka ingin menguak misteri di balik tradisi ini. Maka di malam hari diam-diam mereka keluar. Mereka keluar tanpa izin Nancy. Mereka pergi ke hutan Favella.

Malam terang oleh bulan purnama. Mereka dapat melihat jalan. Mereka melewati pepohonan. Mereka menemukan gerbang berupa pilar ganda. Mereka makin masuk ke dalam.

Dan di dalam kegelapan di kejauhan makin terlihat api menyala. Mereka makin mendekat. Mereka akhirnya melihatnya. Lima orang berjubah merah mengikat seseorang di altar. mereka mengangkat kapak dan memutus orang itu bersamaan. kedua kaki, kedua tangan dan leher terputus semua.

Alfred dan fanny shock. mereka ketakutan. Mereka segera pergi. orang-orang itu mengejarnya tapi kedua remaja itu berhasil lolos.

Alfred dan fanny tiba di rumah Nancy. Mereka menceritakan apa yang mereka lihat.

“Kalian melihat kekera?” Nancy terkejut.

Nancy terduduk lemas.

“kamu kenapa, nancy?” tanya Fanny.

“kalian sudah tidak ada harapan.”

“apa maksudmu?”

“kekera adalah orang yang bertugas menjalankan tradisi kota ini. tak ada yang boleh melihatnya. kalau ada yang melihat orang itu harus mati dan menjadi bagian dari ritual kota.”

Alfred dan fanny terdiam. terdengar suara ketukan di pintu. nancy mengambil selembar kain hitam. dia menutup matanya. dia membuka pintu. pria berjubah merah masuk. mereka ada lima. mereka melihat nancy memakai kain penutup mata. mereka membiarkannya. mereka mencari alfred dan fanny. mereka menemukannya. mereka segera menangkap dan membawa alfred dan fanny. keduanya memberontak tapi tak bisa melawan.

“tidak! tidak! lepaskan aku! nancy, selamatkan kami, nancy! tolong, kami! kami menyesal, nancy! kami tidak akan mengulanginya lagi, nancy!” teriak mereka.

tapi nancy diam saja. Dia berusaha menahan air matanya. kalau sampai mereka tahu dia bisa ikut diseret juga.

Alfred dan Fanny diseret ke hutan favella. Di sana keduanya dihukum dengan ritual yang sama. Mereka berteriak, meronta-ronta, memohon dan menangis tapi tetap tak bisa menghentikan para kekera itu. pertama alfred, kedua Fanny. suara mereka terhenti oleh ayunan kapak. darah mereka mengalir di altar. teriakan mereka mengaung dalam kegelapan malam hutan.

Kota Silvania tetap diam dengan tradisinya. Bertahan ratusan tahun dengan ritual dan larangannya. menghadapi zaman bersama para penduduknya yang mempertahankan tradisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kuliah ekonomi otodidak

2019/03/03   aku dulu kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta kecil di kotaku. karena kuliah aku menjadi mahasiswa. setelah aku lulus aku a...