Udin sedang ingin istirahat dulu untuk besok. Akhir-akhir ini ia sedang pusing karena berbagai masalah. Semua rencananya sudah selesai. Yang perlu dilakukan sekarang hanya menunggu jawaban Dewi. Sementara itu sekarang istirahat menikmati pemandangan sore hari.
Matahari telah beranjak ke barat langit berwarna kemerah-merahan diselimuti awan senja. Awannya yang kekuning-kuningan berarak ke barat. Burung-burung angsa terbang keselatan bersama kawannya untuk kembali ke sarang. Bagaikan melihat sunset di antara gedung-gedung kota.“Kreee .. k!”
Pintu di belakang Udin terbuka. Sebuah bayangan muncul, kemudian diikuti bayangan yang lain. Rupanya ada lebih dari satu bayangan. Mereka mendekati Udin.
Mereka adalah Tony Eka Mahendra, sang direktur terkenal, Novi Pradana Putra Komikus dan Desainer, Andrian Dani Irawan dan seorang Kurator museum nasional Indonesia, Dewi Mega Puspita. Mereka semua membawa senjata pistol dan pedang. Terutama Tony, ia membawa 2 pedang untuk melindungi Dewi. Pakaian mereka hitam berjas dan berpakaian rapi. Hanya Dewi yang berseragam hijau.
Tony lalu berkata “Udin, kau sudah keluar dari organisasi kita dan tak mau bekerja sama lagi. Maka kau sudah melanggar peraturan organisasi yang paling berat dan utama. Kau harus dihukum mati atau dibunuh. Dulu kau sudah lolos. Tapi sekarang tidak lagi. Kau harus mati.”
Udin bersandar tak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam tak bersuara. Pikirannya sedang berkonsentrasi pada orang-orang dihadapannya. Ia harus tetap tenang.
Aku harus menghadapi mereka. Tenang ini hal biasa takdirku selama ini selalu membawa pada situasi begini. Jadi aku harus siap. Pikir Udin.
Tony memandang Udin hanya diam. Itu berarti penjahat ini sudah siap. Ia tak mau menyerah. Tanda diam itu kesempatan Tony langsung maju.
Tony langsung lari cepat sekali. Jasnya berjubah dan kibar terkena angin. Tangan kanan kirinya bersiaga menekuk di pinggangnya. Tangannya terkepal keatas. Kakinya melangkah jauh sekali. Pandangan di matanya lurus dan tajam bagai mata elang. Begitu cepat ia lari sampai muncul angin di belakangnya.
Ia melompat tinggi 3 meter sejauh 20 meter. Dengan kilat ia tiba di hadapan Udin.
Ia menggerakkan kaki kanannya yang tiba duluan memutar dan keatas. Putaran kakinya menyepak tepat ke muka Udin. Udin kena hingga mundur beberapa langkah matanya berkunang-kunang. Melihat itu Tony langsung menyerang lagi.
Tony menendang lurus ke perut Udin. Udin menghindar dan menangkis dengan tangan kirinya. Ia bergerak ke kiri lalu meninju muka Tony. Tony melenggak ke kanan karena Udin meninju dengan tangan kanan, jadi pasti ke kiri.
Tony menyikut Udin dengan tangan kiri. Tangan kanannya lurus mengacungkan kepalan tangannya ke depan. Saat tangan kirinya menyikut, ia maju dan tangan kanannya mundur agar dapat lebih dekat. Udin sudah dalam jangkauan sikunya.
Udin menoleh sehingga terkena pelipisnya. Pelipisnya jadi biru dan ia merasa getaran tulang dan sedikit merasa sakit. Karena sakit itu pandangan agar berkurang dan kecepatannya melambat. Untuk menghindar ia bergeser ke samping.
Tony bergerak melangkah ke samping seperti arah gerak kepiting dengan kuda-kuda ia memancal cepat ke perut Udin. Kaki kirinya melompt agar tendangan lebih jauh dan lebih tinggi. Tangan kanannya menyiku dengan lengan melindungi mukanya. Tapi masih ada celah untuk melihat. Tangan kirinya bersudut ke belakang. Ia menendang Udin menyilangkan kedua lengannya secepatnya ke depan perutnya seraya membungkuk ke depan tanpa kuda-kuda. Tapi karena tendangan Tony terlalu kuat, ia terpental melayang ke udara. Tony menambahkan tinju ke udara pada dagu Udin. Udin melayang cepat ke udara dan jatuh tak jauh dari Tony.
Saat Udin hendak menyentuh tanah, Tony langsung menyusulnya dan menghantamnya horizontal begitu cepat dan kuat. Udin tak bisa menghindar atau menangkis. Langsung ia dihantam seperti godm ke tembok di belakangnya sejaun 20–30 m. Ia jatuh begitu cepat sampai tembok itu hampir berlubang, ada lekuk. Dinding itu remuk dengan retakan besar. Udin terjatuh di lantai. Ia tak bergerak.
Tony mendekat sedangkan teman-temannya mengawasi. Mereka berpikir jangan-jangan Udin sudah mati. Mereka bertanya-tanya, masa Udin mati semudah itu. Tapi ia sudah tak bergerak.
Ketika Tony membungkuk, Udin langsung menyiku Tony dengan tangan kanan. Tony terkena lalu mundur 2 langkah. Ia terkejut, teman-temannya juga tak menduga orang yang dikira mati itu bangkit dengan kekuatan beda. Penjahat itu masih bisa melawan rupanya.
Udin meninju dengan jurus 1.000 bayangan. Tinjunya dengan cepat dan bergerak seperti bertenaga banyak. Jurus tinju 1.000 bayangan menyerang bertubi-tubi. Kaki Udin terus maju mendesak Tony. Pukulan 1.000 bayangan terus mendekati muka Tony.
Tony cepat sadar dari terkejutnya, berpikir enteng dan mendur melompat-lompat. Mundurnya selangkah-selangkah tapi cepat dan jauh. Tangannya dipegang di punggung seperti tentara beristirahat di tempat menghindari serangan Udin. Lompatannya indah seperti penari balet yang indah.
Setelah beberapa lama melompat, Tony berhenti melompat. Dia berpikir. Kemudian ia menyiapkan serangan dan menyerang, “Heeaaaa …!!!” Saat meninju Udin juga meninju. Tinjuan mereka sama kuat dan cepat. “Duuaakk…!!” Mereka terpental.
Tony mendarat cepat menimbulkan kesekan di sepatunya. Ia langsung maju ke hadapan Udin. Setelah itu ia meninju sabit pada muka Udin. Udin malau masih belum kuat pijakannya, tetap bisa merunduk dengan badan membungkuk. Tangannya menyentuh lantai dan melirik ke atas.
Udin melihat ada kesempatan. Ia merentangkan kaki dan berputar ke kaki Tony. Tony melompat menekuk lututnya. Ia juga meninju Udin tapi tak kena karena Udin di bawah. Setelah menjegal, Udin bangkit.
Tony menusuk dada Udin dengan tangannya. Jari-jari tangan rapat dan lurus dengan cepat membelah angin ke leher Udin. Udin menangkis dengan tangan terkepal seperti pamer arloji, lengannya teracung ke depan. Tony jadi menusuk lengan Udin dengan serangan cepat. Jari-jari Tony linu tertekuk, sedangkan lengan Udin jadi berdarah.
Udin menghantam perut Tony dengan tangan kiri. Untunglah jaraknya dekat dan ada pada jangkauan lengan Udin. Tapi Tony menangkis dengan tangan kanannya untuk melindungi dirinya. Saat Tony menangkis, tangan kanan Udin sudah bersarang di perutnya. Udin memukul Tony yang membungkuk memegangi perutnya dengan lutut. Saat itulah Udin meninju Tony ke atas hingga melayang setinggi 6 m.
Saat Tony setinggi 2 m, Udin melompat horizontal. Ia merentangkan kaki kanan dan berputar ke perut Tony. Kaki itu dengan cepat menghantam perut Tony sampai Tony melengkung dan jatuh berdebum di lantai. Lantai itu retak dan debu bertebaran. Udin berdiri tegak menghadapi serangan selanjutnya.
Dari dalam debu itu, Tony merentangkan kaki kanan lurus dan menjegal Udin. Menghadapi serangan kabur dan mendadak, Udin jatuh. Tapi kaki kirinya menahan beban sehingga tidak jatuh. Udin menyeimbangkan badannya. Lalu menyerang dengan lengannya.
Saat yang bersamaan, Tony juga menyerang dengan lengan kanannya. “Duuaakk.!!” Terjadi adu lengan antara Tony dan Udin. Mereka saling mendorong sekuat tenaga. Adu lengan ini berlangsung alot. Kedua petarung ini belum menunjukkan tanda mendang atau kalah. Belum ada tanda siapa yang mundur atapun maju. Tony berusaha keras mendorong Udin. Sebaliknya Udin juga berusaha mendorong Tony dan menumbangkannya. Tampaknya hal ini akan berlangsung lama. Sesaat kemudia, tiba-tiba 2 bayangan menuju ke tengah.
Saat Udin dan Tony saling mendorong, Novi dan Andrian melompat ke arah mereka. Novi mengeluarkan jurus Snake Byte, warisan dari Midou Ban. Tangan kirinya maju seperti cakar elang mencengkram. Tangan kanannya terkepal bersiap-siap menghantam. Andrian melompat kaki kanan dulu. Kaki kanannya lurus dan kakri kirinya menekuk serong ke kanan bagai David Beckham hendak penalty.
Melihat itu, Tony dan Uding saling mundur menghindari snake byte Novi dan tendangan Andrian.
Udin mundur merunduk dan berputar. Novi berputar mengepalkan tangannya. Dia menghamtam Udin. Tapi tidak kena karena Udin berputar. Saat berputar, Udin memukul Novi dengan punggung tangannya. Novi terpental 8 – 10 meter langsung saja ia maju lagi.
Udin berlari cepat pada Andrian. Tangan kirinya terkepal dan direntangkan untuk ditabrakkan pada Andrian agar Andrian tersangkut, mundur dan jatuh. Saat menyentuh badan Andrian, Andrian malah menangkap dengan Udin. Dia berputar kek kanan darinya sehingga Udin malah tertarik dan terbanting. Ia jatuh seketika ke lantai semen yang keras.
Andrian yang berbadan gemuk langsung mengangkat kakinya tinggi-tinggi kemudian menginjakkan kakinya dengan cepat dan bertenaga ke muka Udin. Udin langsung berguling ke kanan. Hal itu terjadi berulang kali. Injakan Andrian selalu mendarat di samping Udin. Keadaan itu memberikan celah pada Udin.
Secepat kilat Udin menyepak muka Andrian. Dengan bersandar pada tangan kiri, tendangan itu membuat Andrian mundur. Matanya pedih terkena debu dari sepatu Udin. Udin bangkit dan menyepak muka Andrian dengan berputar. Andrian mundur-mundur. Udin bersalto untuk Andrian.
2 x bersalto mendekatkan Udin pada Andrian. Saat dekat, Udin mengapit Andrian dengan kedua kakinya dan melayang agar bisa membanting Andrian. Tapi saat di atas Andrian, Novi muncul dengan snake byte nya yang dahsyat. Udin terkena telak di perutnya. Jepitan kakinya lepas dan ia melayang menabrak tembok di belakangnya sejauh 12 m. Ia tak siap dengan serangan cepat. Tembok itu nyaris terbelah dan runtuh.
Novi langsung membuka pedangnya. Diberikan 1 pedang buat Andrian dan 1 buat dia. Berbeda dengan Tony yang diam saat lawan berhenti, ia langsung menyerang untuk memastikan lawannya sudah mati. Ia mengkomando Andrian untuk menyerang bersama. Dan, mulai ! Ia berlari bersama Andrian sambil membawa pedang.
Sementara itu, Udin yang masih membungkuk belum siap. Dia baru bangkit dari jatuhnya. Ketika Novi dan andrian menyerang, Udin terkejut dan cepat menggelinding menghindar. Ia tak punya senjata apapun di tangannya. Sedangkan sekara 2 samurai ahli pedang menyerbu. Udin harus berpikir cepat untuk melawan, bertahan atau minimal memperpanjang umur mhidupnya.
“Cepat berpikir, lihat lingkungan, ada nggak yang bisa buat ngelindungin aku”, demikian pikir Udin.
Novi menyabet horizontal dengan kedua tangannya. Dan Andrian menyabet vertikal. Serangan ini akan akan menjaring lawan begitu kena. Apalagi mereka sedang melayang waktu menyabetnya sehingga jangkauannya lebih luas. Saat itulah kekuatan pertama Novi dan Andrian muncul. Walau tidak kena Udin. Angin kencang berhembus.
Whuuusss …
Udin mundur beberapa langkah. Lalu ia cepat sekali mensleding kaki Novi hingga terjatuh. Tepat sebelum Novi menyentuhnya, Udin menerobos diantara 2 kaki Novi. Andrian menoleh pada Udin yang lari cepat. Dan ia menyadari bahaya Udin berlari hendak menyandera Dewi.
Udin cepat-cepat lari mendekati Dewi. Ia sudah begitu dekat tinggal 3 langkah. Tony sadar Sang Putri tidak terlindungi. Novi dan Andrian sadar Udin sudah mencapai Dewi. Tony langsung mengejar Udin dan berusaha melindungi Dewi.
“Sial, andai aku menyadari orang licik ini !”, kata Tony.
Saat melintasi Dewi, Udin langsung mensleding lantai tanpa menjegal Dewi. Dengan cepat ia berputar berbalik ke depan. Novi dan Andrian yang terlanjur menyabet pedang menimbulkan goresan di lantai sepanjang 10 cm. Tony berlari di belakang mereka menyusul Novi. Dan saat itulah Wajah Udin melintas cepat. Udin berlari dan berhenti 7 langkah kemudian. Dia sempat berhenti dan karena sepatunya aus, dia bergeser 5 cm. Udin mendapatkan pedang Tony.
Novi dan Andrian marah karena terkecoh langsung membuat kipas kilat pedang. Mereka memegang pedang lurus kedepan dengan kedua tangan dan ujung pedang lurus di kiri. Mereka maju dan berputar. Putaran itu makin cepat berputar dan maju ke arah Udin. Whuuussss …
“Sring …!”
Novi dan Andrian berputar saling sejajar mengapit Udin. Udin penuh waspada menghadapi kipas pedang Novi dan Andrian. Ada senjata pedang ditangannya yang siap digunakan. Untuk melawan jurus ini harus pakai cara yang sama. Udin memutuskan untuk membuat cara yang sama.
Udin melompat tinggi ke atas Novi. Saat turun dari lompatannya, ia berputar vertikal sambil memegang pedang ke kanan dengan kedua tangannya. Putarannya makin cepat dan cepat. Kini ia menghadapi 2 kipas yang seperti baling-baling helikopter itu.
“Tring … tring … tring”
“Trang … trang … trang”
Ketiga pedang itu beradu. Putarannya sangat cepat membuat Udin tetap di atas dan Novi serta Andrian tetap bertahan. Gaya sentripetal dan sentrifugal turut dalam pertarungan terus berlanjut. Mereka terus berputar.
“Zzzaattt …”
Novi berhenti berpuar dan menusuk Udin. Andrian juga melakukan hal yang sama. Tapi pedang mereka tertahan oleh kipas pedang Udin. Udin melayang dan berhenti berputar menerima serangan itu. Ia terbang selama beberapa detik.
Novi langsung saja mencekal kaki Udin di bawah. Diputar-putarnya dan dilemparkan pada Andrian. Andrian bersiaga dengan pedang di tangan kanannya. Ini seperti membelah piring terbang. Mudah saja. Dan ia bersiap.
Mengawasi Andrian, Udin langsung turun. Ia kembali pada Novi dan dengan cepat menendang perut, dada dan dagunya seraya melompat ke Andrian yang melongo karena Udin bisa melakukan itu. Udin dengan mudah mendekatinya. Bagai palu godam Udin menendang dada Andrian 5 x. Udin memegang kepala Andrian dan dilemparkannya pada Novi hingga jatuh. Udin terengah-engah menghadapi mereka.
Masalah ini belum selesai, pikirnya. Aku harus bertahan hidup walaupun aku teroris. Mereka begitu kuat dan cepat. Pertarungan ini antara aku dan teman-temanku. Aku harus bertahan.
Di seberang lantai. Tony memandang diam setengah tak percaya. Satu orang itu bisa mengalahkan dua temannya. Teroris muda itu kuat rupanya, dan masih bertenaga. Dia harus dihabisi bersama agar dia cepat mati dan urusannya cepat selesai. Sekarang ini musuhnya sudah punya senjata.
Pertarungan ini seimbang. Maka hal ini menyulitkan mereka untuk mengalahkan dan menghabisi si teroris itu. 2 temannya harus dibantu agar bisa menang melawan teroris sialan itu. Mereka bertiga harus bekerja sama. Kalau perlu keroyok sampai habis.
Tony mencengkram tiang di sampingnya. Digenganggamnya tiang itu sampai hancur dan runtuh. Tersisalah besi bertulang di dalamnya. Ada tulang beton dari besi berkarat. Direnggutnya besi itu hingga lepas dari tiang dan melengkung sekitar 30 – 40 derajat. Panjangnya sekitar 1 m berwarna merah tua kecoklatan. Setelah melengkung diinjangnya sampai tulang itu patah. Kini sudah ada senjata tongkat di tangannya. Tongkatnya meremukkan dan pedang mereka merobekkan. Jika tercampur jadilah tetanus yang berpenyakit fatal. Luka tetanus mampu membunuh seseorang karena infeksi. Senjata tongkat ini memang pantas. Dan Tony pun maju.
Tony segera berlari menyerang ke arah pertarungan. Kakinya melangkah jauh sekitar 2 meter, temponya sekitar ½ detik. Walau jubahnya berkibar, tapi tidak tampak. Tongkatnya pun hanya tampak hitam kabur. Ia berlari makin cepat, cepat, cepat dan melompat.
Saat melompat itulah Tony tampak. Ia melompat tinggi. Ia melayang di puncak selama 3 – 5 detik. Saat di puncak ia mengintai gerak-gerik pertarungan di bawah. Mereka bertarung melingkar dan saling menyabit. Tony berpikir mencari celah untuk ketengah tanpa terkena. Lalu kesempatan itu muncul “Sekarang !”, pikirnya. Dan ia pun turun. Ia makin cepat.
“Bruaakk …. !!!” Suara lantai hancur kektika Tony memukulkan tongkat ke lantai. Tongkat itu hancur berkeping-keping.
Tongkat Tony telah membelah lantai hingga remuk. Remukan itu menjalar ke arah Udin. Ia juga merambat ke arah Novi dan Andrian. Suaranya menggelegar menggetarkan lantai. Sejenak kemudian muncul kilat dari tongkat yang hancur itu.
Novi dan Andrian berhenti sejenak. Mereka memandang ke belakang. Tony memukulkan tongkat dan sebuah retakan menjalar ke arah mereka. Mereka terkejut bukan main. Mereka cepat meloncat mundur, dan berhenti saat retakan itu berhenti. Sebuah lubang besar seperti akar menganga. Tony datang membawa pedang yang satunya.
“Ayo kita serang bertiga”, kata Tony kepada Novi dan Andrian. Pertarungan 3 lawan 1 dimulai. Langit mendung berarak di atas. Angin kencang berputar datang pelan dan pergi. Lantai yang retak di sekitar mereka melepas debu ke udara. Suasana di atap menjadi tegang dan mencekam. Tak ada suara. Hanya angin yang membeikan nada.
“Kau sudah sampai begini, Din!”
“Dan kau akan segera mati”, Tony membuka mulut.
Keempat orang itu saling berhadapan sejauh 3 meter. Muka mereka sama-sama tegang. Muka mereka penuh ketegangan. Tiap mata memancarkan sinar tajam seperti elang. Tak ada yang bicara. Pikiran-pikiran bersiaga menunggu penyerangan.
Mereka memegang pedang masing-masing di tangan kanan. Sedang tangan kiri mengepal erat. Jas Tony hanya sobek di bahunya dan ada sedikit goresan darah. Jas Novi dilepas tadi. Sekarang ia berkemeja dan berdasi. Tapi sudah sobek-sobek dilengannya. Warnanya putih kecoklatan. Jaket Andrian hanya tergores 2 sampai 5, tapi tidak sampai berdarah. Udin yang paling parah. Seluruh lengannya sobek-sobek dan bercucuran darah. Pelipisnya biru dan berdarah. Alisnya meneteskan darah. Berdirinya tidak tegap sempurna. Tapi bersandar pada pedangnya. Kaki Udin bergetar karena luka-luka.
“Go!” seru Tony.
Novi dan Andrian melompati Udin ke belakangnya. Lalu mereka melompat lurus dengan memegang pedang secara tegas. Pedang Andrian di kanan dan pedang Novi di kiri. Jadi mereka saling menengahkan pedang untuk menjepit Udin. Udin menolehnya penuh tanda tanya. Dan Tony makin menjepitnya dengan lompatan rendahnya tapi cepat akan memotong kaki Udin. Udin terjepit dan terpaksa melakukan 1 hal. Ia berputar vertikal dengan badan terentang di punggung Tony yang melintasinya. Mereka berhenti di seberang sedangkan Udin tetap di tengah. Ia memegang kepalanya karena pusing.
Tony maju menyabet Udin. Udin mundur, menginjak pedang Tony dan melompat tinggi. Novi berpijak pada bahu Tony langsung mengejar Udin ke atas. Di atas Udin turun dan Novi menjemputnya. Mereka langsung beradu dan bertumpu pada pedang masing-masing. Tubuh Udin yang tersungkur bertahan mendorong Novi. Novi didorong Tony agar bisa mengalahkan Udin. Mereka saling bertahan. 3 detik Udin naik ½ kilan. Lalu secara miring turun dengan cepat membawa pedang turun menyabet lengan, pinggang dan kaki Novi dan Tony. Ia cepat menekuk lututnya ke depan. Dan ia mendarat. Ia cepat berbalik ke kanan menghindari jurus Saito (Kenshin) dari Andrian.
Selesai Andrian menyabet, Udin langsung menginjak-injak dada Andrian 4 x dan melompat ke arah Tony. Tony mengacungkan pedangnya lurus ke Udin. Dengan acungan pedang itu, ia menahan dan mengawasi. Udin menyepak lengannya dan mengacungkan pedang. Pedang Tony langsung beralih ke tangan kiri dan tangan kanannya mencekal kaki Udin. Dilemparkannya kaki itu ke Novi. Novi berlari menjemput dan memajukan pedangnya ke depan. Udin bertekuk dan meletakkan pedangnya ke depan untuk bertahan. Saat mereka bertubrukan, mereka saling mental. Novi bergeser ke belakang dan maju sedangkan Udin melayang ke udara.
Udin mendarat di tempat agak jauh. Ia berdiri dengan kuda-kuda dan memegang pedangnya. Tony, Andrian dan Novi maju serentak. Mereka membentuk segitiga dan saling berputar. Saat berputar, pedang mereka berputar dan mengiris angin dan benda-benda disekitarnya. Putarannya akan mencincang segala yang dilewatinya. Pedang itu berputar menghancurkan tiang-tiang. Pedang-pedang itu membentuk mulut bergigi 3. Dan mulut itu mendekati Udin.
Udin cepat berlari ke samping. Mulut itu sangat besar. Berkali-kali Udin belok kiri dan kanan. Mulut itu memakan tiang-tiang hingga hancur. Udin menggenggam sebongkah beton dan melemparkannya pada mulut itu. Langsing ia tercincang hancur berkeping-keping menjadi debu. Debu bertebaran pada sekitar mulut pedang. Udin langsung masuk.
Mulut pedang itu melambat. Novi, Andrian dan Tony menyadari Udin telah memasuki mulut pedang. Mereka menutup mulut pedang dan bersiap-siap untuk strategi berikutnya. Mereka berhenti berputar dan membuat jurus baru. Bola pedang.
Mereka melingkari Udin dengan cepat menerbangkan debu di sekitarnya. Awalnya setengah bola dengan seorang samurai melompati Udin terus menerus ke segala arah. Kemudian Tony menyabet kaki Udin. Udin melompat. Tony, Novi, Andrian langsung melapisi bawah dengan jurus putaran pedang. Udin terpaksa bertarung di tengah sambil berputar-putar. Mereka mengelilinginya sambil menyerangnya. Apalagi di belakang mereka ada pusaran angin dari jurus pedang mereka bertiga. Jadilah bola debu dalam tornado.
Bola angin itu berputar kencang walau kecil. Diameternya 9 m. Kesepatannya 30 putaran per deting menghasilkan angin kecil. Tapi keras dan kuat. Lantai-lantai di sekeliling tornado kecil itu bersih dari debu karena debunya terangkat. Lantai itu retak. Angin-angin berdatangan menyelimuti tornado.
Karena bola itu sudah tidak berotasi, tornado itu mulai hilang. Hanya mendung. Tapi bertarungan 4 orang di sana masih berlanjut. Mereka bertarung tak kenal henti dan tak kenal lelah. Mereka masih saling menebas, bersilat dan menyerang.
Di sisi lain, Dewi Mega Puspita memandang lurus ke dalam bola. Tak jelas perasaan hatinya. Dari tadi ia diam dan memandang pertarungan teman-temannya. Mungkin seperti saat mengatakan “Udin … Udin”, pada tanggal 2 September 2006 waktu istirahat jam 10.05 waktu Udin meminta maaf untuk memasukkan namanya secara diam-diam. Kali ini lebih misterius. Ia lebih misterius dari Monalisa. Ia melhat Novi berputar membawa pedang, Tony melompat hendak menusuk Udin, Andrian menyilangkan pedang dengan lengan membentuk silang. Udin menhindar ke atas.
Sebenarnya jika ia mau dan ia boleh, ia mampu membuka telapak tangannya ke muka Udin dan pasti Udin akan hancur. Dan jika ia diizinkan oleh Tony, ia akan menebas Udin hingga tewas seketika. Tapi saat dikatakan kepada Tony, Tony bilang “Jangan De, kamu gak usah bersusah payah. Aku gak mau kamu celaka”.
Ia terus memandang ke arah bola di mana teman-temannya bertarung mereka terus berjuang.
Sekilas, Udin merasa dipandangi. Ia menoleh mencari orang yang memandanginya. Ia menemukan. Di sana. Di sana Dewi memandanginya tanpa ekspresi. Walau begitu, Udin menangkap keindahan di wajahnya. Rambutnya terurai sampai punggungnya. Rambutnya tersisir dari tepi kiri menurun mulus ke kanan hingga hampir menyentuh alisnya. Warnanya hitam sempurna tanpa garis rambut merah walau sering terkena terik matahari. Bola matanya hitam terlindungi oleh bulu matanya yang lentik. Ia berhidung mancung tanpa komedo. Bibirnya tipis kemerahan. Wajahnya yang tanpa ekspresi saja sudah menarik. Apalagi jika melihat senyumnya. Dan yang paling menarik proporsi wajahnya tepat terukur dengan proporsi agung, Phi 1.618.
Dan itulah malangnya. Ia menjadi lengah. Tony hampir saja menebas kepala. Andrian meninjunya begitu keras hingga terlempar jauh. Dan satu serangan lagi. Novi menusukkan pedang ke bahu Udin. Di celah antara tulang selangka dan tulang rusuk pertama itulah pedang menusuk dada kiri Udin. Ia terlempar melesat sampai pedang Novi menancap di tembok sampai retak. Pedang itu tak mampu menahan berat Udin. Jatuhlah ia.
Pertarungan telah selesai. Tony kembali ke sisi Dewi bersama Novi dan Andrian. Mereka berbalik dan memandang Udin. Udin jatuh terduduk menunduk ditikam pedang. Teroris itu telah takluk.
“Aku ingin segera membunuhnya”. Tony mendesak ingin maju.
Novi menahannya. Ia tadi cepat menghabisi Udin untuk memastikan Udin tak bisa melawan. Ia mirip Nico Robin waktu menyandera wali kota Water Seven. Sekarang Udin sudah tak bisa melawan.
Novi mulai bicara, “Kenapa sih, Din. Kamu nekat sejauh ini? Padahal dulu kau begitu semangat di ICSA sampai-sampai sering belajar dan bekerja ke tempat senior-senior. Kenapa kau malah keluar dan memilih resiko mati. Sekarang kau sudah sekarat. Jika kau kembali, kau akan bahagia dan kita bersama-sama lagi. Apa yang membuatmu keluar dari organisasi kita ?”
“Kita kan teman, Din. Apa kau mau mengorbankan persahabatan kita. Aku minta maaf atas perbuatanku tadi. Kau tahu ? tadi kulakukan untuk membuatmu mau mendengarku”
Udin masih diam.
“Ayo, to Din. Masak kau buang hidupmu sia-sia begini. Sebenarnya aku tak mau membunuhmu. Tapi ini adalah peraturan. Kau sendiri dulu pernah bilang agar peraturan itu dipatuhi. Ia ada untuk mengatur manusia. Kami tak mau membunuh tanpa alasan”.
Tony berang dan maju, “Novi, bila kau tak mau membunuhnya, aku saja yang membunuh dia. Aku punya alasan untuk membunuhnya. Dia punya dosa di hadapanku”.
Tony melangkah maju. Dia mendorong Novi ke pinggir dan memandang tajam pemuda dihadapannya. Rasa marah, benci, kesal bercampur jadi satu. Ia akan mengungkapkan rasa marah yang meluap-luap.
“Udin. Aku akan membunuhmu demi beberapa alasan, beberapa alasan itu antara lain :
Kau beriteraksi dengan Dewi Mega Puspita. Itu menyakitinya
Kau berani-beraninya melakukan hal nista. Dasar tak tahu diri. Tak tahu malu. Kau malah melukainya. Itu meresahkannya dan membuatnya kesal.
Kau melukai hatinya saat Pak Aziz membaca puisi Maria Lydia. Dia menangis dan meneteskan air mata.
Kau bermain angka tentang hubunganku dengannya.
Kau memfitnahnya dengan angka-angka setanmu. Kau juga memfitnahku denmgan matematikamu. Orang lain seperti Made, Wina, Novi, Andrian, Hari, Prasetyo, Dika, Purnama, Dewi, Muhammad Rofi, Muhammad Ulya, Abdillah, Rosaria yang tak bersalah kau tuduh sebagai tersangka paganis. Bahkan Ary Allain kau peralat untuk tujuanmu.
Kau memfitnah aku, Dewi, Novi dan Andrian dalam cerita busukmu itu. Cerita “Pertarungan Terakhir” itu sungguh memuakkan.
Kau seenaknya saja keluar dari ICSA tanpa memperhitungkan yang lain.
Kau mengebom di atas makam Proklamator Bung Karno waktu diadakan Haul Bung Karno dan Grebeg Pancasila.
Kau merendahkanku dengan julukan Atem.
Kau terlibat organisasi di kegelapan di situs http://www.blackmetal.com Novi menjadi saksi.
Kau menyindir Dewi dengan e-mailmu dwimp3@yahoo.co.id
Kau menggambar rumah Dewi di diary mu dan dalam ujain praktek kelas 10.1. Kau bilang itu simbol hati Dewi Nawang Wulan. Padahal jelas-jelas itu rumahnya. Rofi dan Andrian berusaha membukanya. Dewi menanyakannya, tapi kau membohonginya.
Kau selalu mengejarnya”, aku Tony
“Nah pendosa, sekarang apa yang akan kau katakan ? Tak ada alasan bagiku dan kami untuk tidak membunuhmu. Tak ada yang membelamu dan tak akan ada yang menemanimu” tanya Tony lantang.
Tony menunggu jawaban Udin. Sedangkan Novi dan Andrian tercengang atas fakta yang diungkap tony. Dosa-dosa Udin yang ketahuan sudah sejauh itu. Tapi mereka juga memaklumi Udin memang orang aneh. Kini Udin sudah tak bisa diampuni lagi. Ia tak pantas hidup dan punya teman dalam hidupnya.
Tony maju selangkah untuk mengamati Udin.
“Dooorr ….!!!”
Pintu di belakang dewi terbuka. Seseorang berjubah hitam seperti penyihir datang sambil menodongkan shootgun. Dia menembak lantai 4 kilan dari kaki Tony. Tiang di samping Dewi dan 1 kilan di samping kaki Novi. Dia menodongkan shootgun dengan tenang dan berjalan agak cepat.
“Minggir ! Jangan ada yang bergerak !” teriaknya
“Awas ! Jika ada yang bergerak, akan kutembak”
Ia menembak 5 cm di kiri pipi Andrian yang hendak menyerangnya. Ia mendatangi Udin yang terduduk bersandar di dinding. Diturunkan shootgun itu dengan tangan kirinya. Ia berlutut dengan berjinjit untuk membangunkan Udin. Ia merangkulnya dan memanggilnya.
“Din … Udin …” ia membangunkan Udin.
Udin membuka matanya. Perlahan-lahan pemandangan mulai jelas dihadapannya. Ia melihat seorang pria disampingnya.
“Dark … Darkwing …” ia bergumam.
Udin berusaha bangun, tapi sulit sekali dan sakit. Darkwing Speak menahannya dan menyuruhnya untuk tetap duduk. Pendarahan akibat pedang itu cukup parah. Udin kembali duduk. Ia mencoba mengatur pernafasan.
Darkwing bertanya, “Kenapa kau sampai begini. Duku kau bilang kau lemah, tapi kok malah menantang. Kenapa kau tak lari dari mereka ? Malah datang. Ayo kubawa ke rumahku biar kuobati”.
“Tak usah. Mungkin ini sudah takdirku. Walaupun Ratika selalu mengingatkanku agar tetap bersemangat, takdirku sudah menggariskanku di bawah SKM”, jawab Udin.
Udin berusaha lagi untuk bangun. Dia berpegangan pada dinding. Darkwing membantu membopongnya. Udin bersandar dengan tangan ke tiang di sebelah kanannya. Lututnya masih berat, sulit seimbang dan gemetaran. Dia berdiri lagi.
Udin memegang pedang dengan tangan kanannya. Bahunya linu sekali untuk bersandar di tiang. Awalnya dia ragu, tapi pedang ini harus dicabut. Ia mencabutnya pelan-pelan. Sakit sekali. Ia merasakan daging dadanya teriris mengalirkan darah kotor ke dadanya, mengotori sweaternya dan sehelai kain tambahan. Ia jadi memutuskan untuk menariknya dengan cepat. “Sreett …”. Pedang itu telah terlepas dari tubuhnya. Sekarang ia dapat berdiri dengan lebih tenang.
Udin memandang pedang itu sebelum menggunakannya. Pedang itu sudah berwarna merah berlumuran darah. Darah itu kental merah tua. O yang kurang oksigen membuat pedang itu kehitam-hitaman. Goresan-goresan yang sangat banyak pada pedang ini membuatnya jadi bergerigi dan tidak berkilau lagi. Ia sudah aus tapi ia masih kuat dan belum ada tanda-tanda retak atau akan patah. Udin menggunakannya sebagai tongkat.
“Uhuk … uhuk …” Udin batuk. Mulutnya mengeluarkan darah tua. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Tangannya menjadi merah. Lebih pekat dari cat. Dia meringis sakit karena tusukan tadi. Batuk darah sudah memberi tanda kematiannya. Udin berusaha berdiri lagi.
“Te … terima kasih, Dark. Selama ini kau sudah membantuku, menemaniku dalam hidupku dan memanduku. Sekarang kau pergilah”, kata Udin sambil memandang darwing.
“Din, jangan ! Mari kita pergi” ajak Darkwing.
“Tak usah. Terima kasih” jawab Udin.
“Eh, din. Aku punya rencana”, kata Darkwing.
Darkwing membisikkan sesuatu ke telinga Udin. Udin diam mendengarkan. Ia kemudian manggut-manggut mengerti. Selesai itu, Udin memandang Darkwing dengan tersenyum.
“Bagaimana ?” tanya Darkwing.
“Baiklah”, kata Udin.
“Oke, nanti ku tunggu” jawab Darkwing
Darkwing memungut shootgunnya. Dia mengokang shootgan. Kemudian Darkwing menodong 4 orang di seberang atap. Darkwing berjalan ke pintu di belakang Dewi. Saat melintasi Dewi, ia tersenyum. Dewi acuh saja padanya. Saat tiba di pintu, ia berkata.
“Novi, Dewi, Andrian dan kau Tony. Dengarkan baik-baik ! Percuma saja kalian membunuh. ICSA telah menipu kalian. Akan kubuktikan. Lihat saja nanti” sapa Darkring. Dan ia menghilang di balik pintu.
Kini Udin sendirian lagi. Ia bersandar pada tiang memegang pedang. Matanya seperempat terpejam. Tangan kirinya memegang lututnya yang berdarah-darah. Sweaternya sudah merah tua. Memandang teman-temannya yang akan membunuhnya. Udin tak merasa menyesal sedikitpun.
“Nah, Din. Sekarang tak akan ada yang membantumu. Kami beri waktu beberapa menit untuk berdoa. Malaikat maut akan menjelaskan semuanya”, kata Tony.
Udin merasa merasa ajalnya sudah dekat.
Jadi hidupku telah memilih. Menurunkan aku ke bumi. Hari berganti dan berganti. Aku diam memahami. Ooo … ooo … ooo… ooo. Mengapa hidup begitu saja. Apakah hidup seperti ini. Mengapa ku selalu sendiri. apakah hidupku tak berarti. Coba bertanya pada manusia tak ada jawabnya. Aku bertanya pada langit tua, langit tak mendengar.
Andai kau ijinkan, walau sekejap memandang. Kubiktikan kepadamu aku memiliki rasa cinta kepadamu. Tak sempat aku nyatakan karena kau telah memilih menutup pintu hatimu. Ijinkan aku membuktikan, inilah kesungguhan rasa. Ijinkan aku menyayangimu.
Hujan turun di Kota Blitar. mengguyur gedung-gedung, bangunan, jalan, orang-orang yang lalu lalang di bawah mereka. Mobil-mobil dan kendaraan yang lewat menyipratkan lumpur ke trotoardan pejalan kaki. Titik-titik hijan membasahi seluruh kota. Kota Blitar menjadi suram.
Udin berpikir dalam lemah. Luka-lukanya begitu nyeri sehingga sulit digerakkan. Hujan yang menyiram lukanya membuatnya lebih perih. Dalam hujan ia termangu memandang teman-temannya.
Ia mengingat kembali masa lalunya bersama mereka.
Dulu, pertama masuk 10.1 ia tak mengenal siapa-siapa. Udin masih malu. Tapi kemudian mencari teman. Dia melihat sekeliling untuk mencari kira-kira orang yang pantas dan lucu buat dijadikan teman. Udin menemukannya. Di sana, di bangku ketiga dari depan. Kursi paling timur. Seorang cowok berkaca mata minus sedang duduk sendirian.
“Met pagi, mas. Eh nama kamu siapa?” tanya Udin.
“Namaku Novi. Kamu ?” tanya pemuda itu.
“Wahyu Nurudin. Hei Nov, rumah kamu di mana ?” tanya Udin.
“Sangut. Pokoke di belakang pemancar”
“Kalo aku di sukorejo”
Dari situ mereka kenalan. Novi sebangku dengan Hari. Di depannya ada Andrian dan Ary. Lalu Udin duduk bersama Zahrul Latif. Walau terpisah, Udin sering mampir ke bangku Novi. Mereka sering ngomongin Komite One Piece, 555, http://www.animelyrics.com bahkan (maaf) hentai. Lalu mereka kenalan sama anak lain ke seluruh siswa 10.1.
Andrian, Ary, Novi, dan Udin duduk berdekatan. Sejak Udin bertukar tempat dengan hari, merek berempat sering bercanda bersama. Andrian, Novi dan Udin ikut Jurnalistik dan hampir selalu bersama. Hanya Ary yang tetap tenang.
Semester I berlalu bersama lirik Anime.
Akhir Ramadhan Udin ke rumah Novi. Di sana ia melihat banyak sekali komik. Andrian meminjam komik dan majalah. Udin juga pinjam. Saat itulah mereka lebih akrab lagi.
Si Udin bahagian ia punya teman-teman yang lucu. Ia merasa mungkin itulah saat yang menyenangkan baginya. Ia punya Novi yang pintar, lucu, kaya. Seluruh 10.1 yang manis, kompak, pintar. Wali kelasnya sampai bangga. Apalagi ada 1 hal yang sangat penting bahkan bisa jadi hal yang paling menyenangkan selama kelas 1 SMA.
28 Desember, Bayu Primahatmaja mengatakan ia punya novel berjudul Da Vinci Cide. Awalnya Udin tak berminat. Tapi setelah ia membacanya banyak hal yang isinya sangat menarik dan kontroversial. Udin langsung menghabiskan 5 hari untuk membacanya.
Pasca Da Vinci Code, Udin jadi tertarik dan mengenal Dewi. Bahkan ia tergila-gila padanya. Dalam berbagai hal, ia selalu menemukan hal aneh. Ia telah memikirkan matematika, aritmatika, sejarah, biologi, agama, seni dan lain-lain. Ia telah menulis artikel “Pentagram Simbol Dewi Mega Puspita”, “8 dan Dewi Mega Puspita”. Kemudian yang terakhir buku berjudul “Angka-angka dewi Mega Puspita” telah terbit. Udin menghabiskan waktu 6 bulan untuk menulis buku itu. Semester 2 dikorbankan untuk buku Dewi.
Walhasil, nilai rapornya turun 5 nilai.
Mereka berpisah kelas tapi tetap bersama. Andrian ke IPS. Novi, Udin, Ary, Dewi, Tony ke IPA. Novi masih sering bersama Udin dan Ary. Dewi telah menjadi pacar Tony. Mereka terus bersama samapi ke ICSA. Novi, Udin, Tony, Dewi bekerja sebagai peneliti masalah sosial-ekonomi. Bedanya, Novi, Tony dan Dewi masuk karena direkrut sedangkan Udin masuk karena melamar kerja.
Saat bekerja, mereka bekerja secara terpisah. Tony dan Dewi bekerja sebagai pengamat lapangan, Novi sebagai editor data, Udin sebagai notulen rapat dan penasehat kebijakan. Mereka harus mengamati perubahan lingkungan setiap hari dan diharuskan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.
Awalnya, Udin enjoy saat jadi penasehat kebijakan sektor Kota Blitar. Tapi saat menonton Liputan 6 Petang, dia terkejut. ICSA memenangkan Israel Incone Resource Developer Award. Dan saat dia tak sengaja menemukan bahwa ICSA level atas adalah anggota kegelapan yang terkumpul dalam situs http://www.blackmetal.com. Belum lagi dia mengetahui sistem gaji dan cara kerja ICSA adalah riba, kontan dia marah dan memutuskan untuk keluar.
Biarlah teman-teman bersama kebahagiaan mereka. Jangan sampai perkataan kita menyakiti bahkan menghancurkan masa depan mereka. Biarlah aku yang hina ini yang menderita membawa informasi ini. Walau harus mati aku tak mau mengatakannya.
Sekarang sudah terlanjur begini. Tetap pertahankan pendapat. Apalagi tubuhku sudah remuk. Tak ada lagi alasan bagi penjahat ini.
“Hei, Udin. Kau sudah puas melamun dan berdo’a. Kalau sudah, cepat menyerah. Biar aku menghabisimu. Sudah tak ada lagi penolongmu” teriak Tony.
Penolong? Hah? Itukan kata Darkwing tadi. Tadi katanya ia memberitahuku tentang rencananya tadi. Kalau tak salah rencana itu akan terjadi beberapa waktu lagi. Tapi berapa lama?
Udin melihat jam tangannya.
Sinar harapan menerangi mata Udin. Rencana Darkwing tadi benar-benar jitu. Ia bukan hanya akan menunda matinya, bahkan menyembuhkannya dan memperkuat dirinya dan memenangkan ia dalam pertarungan ini. Ia lalu berdiri tegak. Rasa luka dan sakit sudah berkurang dalam hujan ini.
Ia lalu menunggu Tony, Novi dan Andrian.
“Baiklah …”
“Bull …!” Udin lenyap dari pandangan mereka.
Tony dan Novi terkejut. Mereka segera mencari ke tempat Udin berdiri tadi.tak ada jejak ke manapun. Mereka kebingungan mencari orang lemah yang hilang itu. Tony mengumpat-umpat dan memaki. Novi marah dan menghantam tiang di sana hingga hancur.
“Sial. Ke mana anak bodoh itu”, umpat Tony.
“Harusnya kan dia gak bisa ke mana-mana” Novi menimpali.
Andrian melangkah tenang. Dia bersedekap maju dengan mata terpejam. Dia penuh konsentarsi memandang tempat Udin tadi. Kemudian ke tembok. Tak lama kemudian dia menemukan sesuatu. Sesuatu … merah … kecil … menempel di tembok. Andrian menelusurinya hingga ke atas.
“Aku menemukannya. Dia melompat tembok ini” suara Andrian.
“Hah? Masa’ Yan. Kok tadi tidak ketahuan. Mana buktinya?” tanya Novi.
“Itu. Ada bercak darah di dinding yang berjalur ke atas” jawab Andrian.
Mereka lalu melihat ke tembok. Benar. Ada bercak darah kecil di sana. Bentuknya panjang dan seperti tanda pentung terbalik. Jarak antar tetes darah lumayan jauh sekitar 1 meter. Ini membuktikan dia bergerak cepat.
“rrr …” HP Tony berhetar.
“Ya, hallo” Tony mengangkat HP-nya dengan ditutupi jubahnya karena sekarang sedang hujan.
“Bos, rencana kita berhasil. Udin telah masuk perangkap kita. Aku sulit percaya Udin begitu mudah percaya dan begitu bodoh untuk meyakini harapan hidup ini. Terus sekarang kitap siapkan kejutan buat dia, Bos” kata dipenelepon.
“Oke, mari kita beri dia kejutan. Mungkin itu sebagai karangan bunga dari kita dan sebagai bekal kematian. Ayo, kita siapkan rencana kita. Rencana yang dipercaya Udin sebagai hidupnya. Dengan kata lain, kita penuhi rencana Udin” jawab Tony senang dengan senyum.
“Oke, mari Bos” kata penutup penelepon.
Tony memutus HP-nya dan menekan tombol HP-nya lagi.
“Hallo” Tony membuka pembicaraan.
“rrrr …..”
“Ya, saya di sini” sebuah suara menjawab.
“Pak, situasi terkontrol. Udin sudah seperti anak lumpuh yang berusaha lari. Dia sudah tak mungkin selamat” kata Tony.
“Bagus. Jalankan sesuai rencana. Ingat! Jangan ada yang tahu rencana kita. Pembunuhan penjahat yang membelot adalah rencana Tuhan mengalahkan setan. Nanti jika ada perkembangan, hubungi aku”
“Baik, Pak”
sementara itu Ary menikmati perburuan panjang terhadap Udin bersama Meri disampingnya.
Di gang, Udin menunggu Darkwing. Lama sekali. Karena tak sabar dan gelisah, ia berjalan mondar-mandir. Mana sih, Darkwing? Udin sudah tak sabar. Ini sudah dari dulu. Dulu teman-temannya sering janji akan datang. Tapi lama sekali, bahkan tak datang. Udin sangat kecewa. Ia memutuskan untuk berjalan sendiri.
“Aku sudah jauh”, pikirnya. Udin berjalan di gang yang panjang. Tak mungkin mereka mengejarku. Ia berjalan terengah-engah karena lelah sambil menyeret-nyeret langkah. Berat sekali. Ia berusaha berjalan pelan-pelan sambil kadang-kadang menengok ke belakang untuk memastikan mereka tak menemukannya. Gang ini tersembunyi.
Sesaat setelah menoleh, Udin terkesiap.
Dewi Mega Puspita menodongkan pistol ke dahinya. Dingin sekali sikapnya. Dengan jarak 5 meter ia aman dari serangan.
Awalnya Udin terkejut, tapi kemudian tersenyum.
“Oh, jadi begini akhir rasa ini. Terserah apa maumu, De!”
Dewi berdiri tegak-tegak dengan mata tajam. Tapi kali ini ekspresinya sangat jelas. Mata kematian. Dia mengacungkan pistol Tokalev. Bajunya basah kena hujan. Benar-benanr akhir yang dingin.
Udin tersenyum untuk terakhir kalinya.
Bila yang tertukis untukku adalah yang terbaik untukmu kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku. Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupku yang tlah terukir abadi sebagai kenangan yang terinadah.
Dewi menarik pelatuk. Udin memejamkan mata.
Peluru melaju kencang ke dahi udin. Menembus kulit, tulang dan neuron ke pusat otak Udin. Menghancurkan semua data. Semua dari pentagram, Phi, Da Vinci Code, One Piece, Novi, Dewi, Tony, teman-teman, Harun Yahya, Maria Magdalena bahkan sampai Warcraft, Ary dan Meri lenyap. Dan berakhirlah.
Dewi berjalan melangkah meninggalkan Udin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar