Cita-cita tidak sama dengan angan-angan. Cita-cita itu sunah yang lebih baik dimiliki angan-angan itu makruh yang lebih baik dihindari. Mempunyai cita-cita itu berpahala berangan-angan itu mengundang dosa. Cita-cita adalah harapan yang dibangun diatas keyakinan yang kuat dan diupayakan mencapainya dengan perencanaan yang matang dan kerja keras yang gigih.
Cita-cita adalah motivasi yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu/tidak melakukannya demi terwujudnya suatu harapan. Harapan itu adalah keyakinan yang menginginkan suatu tujuan.
Maka modal utama yang harus ada pada orang yang punya cita-cita adalah keyakinan bahwa harapannya akan tercapai jika berusaha dengan sungguh-sungguh, sistematis dan terarah.
Para Da’i harus yakin dan memiliki kekuatan tinggi untuk berdakwah.
Ibnu Qoyyim Al-Jauziah memaknai cita-cita sebagai jiwa yang tidak kenal/berhenti kecuali kepada Alloh, tidak rela cita-citanya ditukar dengan kenyamanan, tidak akan menjual karunia Alloh berupa Al-Qarub, kelembutan kesenangan dan kegembiraan dengan harga yang murah dan fana.
Cita-cita menentukan nilai. Kalau cita-cita kita besar, kita akan berpikir besar dan menghargai nilai-nilai yang menjunjung kita kepada kebesaran dan pencapaian cita-cita kita seperti keberanian bermimpi, keberanian berbeda, kreativitas, antusiasme, kerja keras, keadilan, ketukan, kepedulian sosial tolong menolong dll.
Umar Bin Khattab berkata: Jangan sekali-kali kamu perkecil impianmu. Karena sesungguhnya aku tidak pernah melihat seseorang terbelenggu kecuali karena tidak punya cita-cita.
Terbanglah menuju cita-citamu. Buatlah lompatan kuantum. Buatlah cita-cita yang tinggi. Buatlah perencanaan cita-cita dan rencana itu harus realistis dan dibarengi usaha yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar